Selasa, 13 Juni 2017

adistie; ketepatan dan kecepatan

‘Ini aku berhasil masuk ke jaringan adistie’ Tovan dengan menunjukan laptopnya yang entah aku gak tau dengan isi yang ada ditampilan laptopnya. Aku mengangguk saja seakan mengerti dengan apa yang ditunjukan oleh Tovan. Tovan yang sedang sambil merokok ia mentup panggilan video dengan mengatakan setengah jam lagi aku ketempatmu.

Ramainya Ibu kota di hari senin awal kerja terlihat begitu sibuk, stasiun penuh dengan orang, KRL sampai berdesak desakan dengan paksa, di jalan suara klakson kendaraan saling bersautan satu dengan lainya jalanan begitu padet.

Jam di dinding terus berputar alunan music terus berputar, pagi hari yang seharusnya sibuk dengan urusan kerja di kantor selayaknya orang pada umumnya, aku duduk disofa menunggu Tovan yang akan memberikan sebuah flasdisk yang berisi sebuah perangkat aplikasi untuk masuk mengunduh file dalam adistie.

Hand phone yang terletak diatas meja berbunyi sebuah pesan masuk, pesan dari Tovan bahwa dia sudah tiba di loby, dengan singkat aku balas ok bergegas aku turun ke loby untuk jemput Tovan, tinggal di Apartemen yang mengharuskan menggunakan kartu akses untuk masuk.

‘Kau udah hubungi Azram belum, Di??’
‘Belum, Van’
‘Hubungi dia’
‘Ok’ kami keluar dari lift dan berjalan menuju pojok, tempat dimana aku tinggal di apartemen ini.

Hari ini akan sibuk dengan urusan yang sedikit rumit berurusan dengan seorang yang mencoba merusak jaringan internet, mencoba untuk membuat sebuah senjata peluncuran untuk menguras perusahaan di negeri ini dan mencoba membuat sebuah virus.

Azram pun aku telpon dan ia segera menuju apartemen, yang hanya berjarak seberang jalan hingga ia pun cepat sampai hanya dengan jalan kaki.

‘Ini nih semaleman aku gak tidur ngotak atik biar bisa masuk ke adistie, ini sebenernya udah masuk cuma untuk melakukan pengunduhan harus dilakukan dalam jarak yang berdekatan’. Dengan jari yang menunjukan ke laptop Tovan memberikan penjelasan. Sungguh ini sebenernya aku gak tau, dan aku akui hebat juga si Tovan dia bisa teknologi.

‘Terus ini gimana? Kita harus ke lokasi nya yang di Indramayu sana?? Kita harus ke…. Oohhh jangan bilang kami harus ke Indramayu, Van’. Dengan tatapan yang menunjukan kemalasanya Azram mengalihkan pandanganya ke Aku yang sedang membuat kopi.

Dia gak mau ke Indramayu karena pacarku orang Indramayu, dia pernah dua kali ke Indramayu dan dia aku tinggal di rumah Haris.

‘Santai Zram, kau ini kalo denger nama yang berkaitan dengan cewek langsung gitu’.
‘Aku kapok sama Adi, aku ditinggal di rumah Haris udah gitu Haris sama pacarnya, sebagai single man aku merasa diri ini tak punya kekuatan mutan’. Muka Azram menunduk dengan acting seakan dirinya seorang single yang ngenes.

‘Taeekk kau, Zram’. Aku lempar sebatang rokok kemuka dia, yang kemudian ia sok kaget melompat dan parahnya kepalanya mengenai lampu hingga pecah lampunya.

‘Kalian gak perlu ke Indramayu, karena semalem mereka ke Jakarta dan dari obrolan mereka dengan seorang yang di Jakarta, entah aku gak tau siapa orang ini, ia bilang mereka bertemu di stasiun Gondangdia jam 11.00. kalian tak perlu juga datang langsung karena itu bisa kacau’.
‘Terus??’
‘untuk ke Gondangdia Agung menggunkan KRL jadi kalian ke Manggarai naik kereta jurusan Bekasi, karena kan Agung dari Jatinegara jadi pas kereta kalian berpapasan kalian tinggal klik ini’. Tovan sambil memnunjukan tanda yang harus di klik pada hp yang sedang terhubung dengan laptop menggunkan kabel data.

‘Gimana kami bisa tau nanti pas kereta berpapasan??’ kata Azram yang sambil membolak balikan telur yang ia goreng dan mengatakan ooohhh nikmatnya ini telur.

‘Nanti aku pandu dari sini, semua sudah aku retas hanya satu untuk mengunduh harus dalam jarak maksimal 23 meter, cuma untuk konek, klik setelah itu pengunduhan bisa dilakukan dengan jarak berapa pun kilometer tak masalah’.

Jarum menunjukan pukul 09.00 alunan music Linkin Park pun masih berputar. Tovan masih sibuk dengan laptopnya, sedangkan Azram menikmati rokoknya. Dan kerena sudah semakin mendekati pukul 11.00 aku dan Azram turun dari Apartemen yang dari lantai 6. Kami berjalan ke Stasiun Duren kalibata. Kartu kami ambil dari dompet kami tap dan masuk yang kebetulan kereta jurusan Angke sudah mau masuk, tak perlu menunggu kami masuk kereta menuju Stasiun Manggarai.

‘Kau kok bawa tas, tas gede pula yang kau bawa, Di. Emang kita mau mudik, kurang kerjaan banget kau ini’.
‘Lha kau baru nyadar kalo aku bawa tas?, hahaaa Zram oalah makanya cepetan dapet pacar lagi biar gak apa-apa bengong gak konsen’.
‘Sialan kau ini, emang kau bawa apa sih?’
‘Kau mau tau?’. Tanyaku dengan serius. Kereta berhenti sampai stasiun Tebet. ‘Nihh’ aku membuka tasku dan menunjukan isi tasku ke Azram.

‘Senjata???’. Kaget Azram dengan suara yang keras ‘ Edaannn kau Dii’ dia memelankan suaranya. ‘Kau dapet dari mana itu pistol? Itu model yang….’
‘Iya ini’.
‘Gila kau kapan masukanya, kapan ngambilnya, Di??’
‘Kan udah aku bilang kau itu makanya dapet pacar baru biar jadi fokus’. Dan terdengar suara operator kereta yang memberi tahu bahwa kereta akan tiba di stasiun Manggarai. Kami pun bergegas turun saat pintu otomatis terbuka.

Suasana Stasiun begitu ramai, banyak orang yang berlalu lalang naik turun kereta. Sambil menunggu aba-aba dari Tovan kami makan Roti O sambil minum air mineral untuk mengisi sedikit kekosongan hati ini.
Kereta jurusan Bekasi pun tiba setelah operator bilang untuk memberi tahu para penumpang yang akan menuju Bekasi. Dalam ini aku berpikiran mungkin kerja orang ini enak juga cuma ngomong aja setiap kali kereta akan masuk ke Stasiun. Azram terlihat begitu menik mati rotinya.

Di Apartemen Tovan masih sibuk dengan laptopnya, ia memantau perjalanan Agung. Dengan masuk ke system Tovan bisa memantau laptop Agung kemanapun laptop itu berada. Dengan mata yang mulai mengantuk berat Tovan mencoba menahan nagntuknya dengan menikmati rokok dan secangkir kopi disebelahnya. Terlihat di laptop Agung sudah berada di Stasiun Bekasi Tovan mengambil hand phonenya menghubungi kami yang sedang berdiri melihat kanan kiri yang begitu banyak dengan orang.

Kereta jurusan Bekasi sudah memasuki jalur, kami segera masuk.

‘Eh, Dii. Kau bawa senjata emang buat apa? Apa akan ricuh kah kek waktu kita di Malang?’.
‘Enggak, ini mah cuma buat jaga-jaga, biar keren aja’.

Tanda titik merah di ponsel mulai mendekat, dengan seksama aku perhatikan tanda merah tersebut yang disitu juga tertera jaraknya. Setelah melewati Stasiun Cakung kereta kami berpapasan, dan Klik saat tanda merah berjejer dalam dua setengah detik. Tanda pengunduhan file pun muncul yang berarti pengunduhan akan segera sukses, pengunduhan memerlukan waktu 20 menit.


2 komentar:

  1. Seru nih temanyaaa. Hohoho. Apalagi karena aktornya ada yang namanya kayak gue dan suka pake tas juga. Muahaha. \:p/

    Semoga ada lanjutannya ya!

    BalasHapus
  2. makan sama minum buat ngisi kekosongan hati? bukannya kekosongan perut ya? wqwqwq

    BalasHapus

Jangan beranjak dulu, tinggalin dulu komentarnya. biar kami tau kalo kamu kesini. kunjungan anda sangat berarti.