----Kegalauan yang menghampiriku membuatku seakan sakit jiwa,
aku yang begitu mencintainya kini renggang, jarak yang jauh membuatku tak bisa
untuk menemuinya. Aku hanya bisa besabar menunggu kepulanganya untuk aku temui
di rumahnya.
Saat seperti ini aku masih bersyukur, aku punya teman
yang kampret yang bisa bikin hilang stres dengan menambah stres. Aku yang
sedang menikmati marlboro merah, rokok yang kami beli patungan berdua kini
tinggal 3 batang, aromanya pun sudah memudar.
***
Aku tarik ujung jaket Hendri yang sudah meminta foto sama
mba pramugari kereta api di Stasiun Jatinegara, kami akan menuju Jakarta kota
membuang kepenatan yang menghampiri.
“Apaan sih kau? Main tarik tarik, aku kan belum sempet
ngobrol sama mbaknya lumayan waktu 5 menit”. Dengan muka dan nada memelas
Hendri menatapku seakan ingin menjedotkan jidatku ke krl.
“Ini udah ada yang ke Manggarai, lama kalo kita nunggu
yang Jakarta Kota, keburu imsak nyet”.
Kami masuk ke kereta dengan kondisi yang hampir penuh,
seperti biasa saat naik krl dikala kondisi seperti ini aku berdiri deket pintu
dan melongok jendela. Entah kenapa rasanya itu seperti kerinduan melihat tempat
yang dilewati kereta, walaupun pemandanganya cuma itu-itu aja dan naik krl udah
keseharian namun tetep aja melongok jendela seperti jadi kebiasaan.
Beda dengan Hendri, dia yang berubah-ubah kebiasaan dalam
kereta. Saat sepi dia dengan mudahnya memejamkan mata dalam hitungan detik dia
bisa pules tertidur, kadang dia juga sibuk dengan hp nya entah apa yang dibuka.
Yang paling ngeselin kalo dia sok kenal, mendekati
perempuan dengan pd nya, dan dia bisa melancarkan seratus pertanyaan dalam
jarak satu stasiun. Tak lama kereta sampai Manggarai mengakhiri perjalanan, dan
kami pindah jalur untuk melanjutkan ke Jakarta Kota.
“Mana hp mu sini”.
“Apaan sih kau ini?”.
Hendri mulai menatapku dengan muka yang bikin aku kesel
saat dia pasang muka datar pandangan penuh paksaan untuk merebut hp yang aku
pegang ditangan kiriku.
“Sini sih, ah susah banget, lagian ngapai sih kau buka
hp?? Kan udah gak ada lagi kan kontak Wulan, nanti yang ada kau nambah galau.
Kalau kau sampe galau tek tinggal pergi. Mending aku ke Cirebon tempat Indra”.
“Emang kalau aku galau kenapa?”.
“Kalau kau galau aku gak mau jadi saksi, ditanyain apa
penyebabmu galau terus kau gila di bawa Magelang ke RSJ, aku males juga nengokin
orang gila”.
Sambil senyum, yang seakan menirukan senyum Wulan dengan
muka sok berseri memperlihatkan kata maaf atas ucapanya ngomong aku gila dengan
perlahan merebut hp ku.
“Aku cuma mau lihat foto yang tadi sama mba pramugari”.
“Sialan, fakk.. kenapa gak bilang aja langsung dari tadi
nyeettt”. Heerrggghhhtt greget banget.
“Kan biar ada keseruanya”.
“Wooo kamprett, lagian ngapain sih kau foto sama mbanya,
emang mau kau pasang di instagram gitu?”.
“Ya iyalah”.
“Enak banget hidupmu, eh terus gimana kabar erika?”.
“Iyalah, emang kau galau mulu udah seminggu, pake nangis
pula”.
“Bangkee, kau dulu lebih parah pake frustasi gila gitu”.
Erika adalah seorang perempuan yang berhasil mendapatkan
hati si kampret, orang yang dulu hampir frustasi berat karena ditinggal nikah
pacarnya, kini erika membuat hari si kampret ini berwarna.
Belum lama Kampret ini buka hp ku dengan senyum senyum
sendiri kereta sudah mau datang terdengar dari suara petugas yang mengatakan
akan kedatangan kereta jurusan jakarta kota. Entah apa yang dilihat dia senyum
senyum gak jelas, hanya sebuah foto yang aku rasa sama sekali gak ada yang
lucu. Menyodorkan hp ke depan mukaku dengan menanyakan pertanyaan yang
seharusnya gak aku jawab.
“Kau lihat foto ini”.
“Iya, mba nya itu cantik apalagi dengan balutan
jilbabnya”.
“Aaahh kau ini, bukan itu. Liat lah fotoku, ganteng juga
aku ya kalau senyum bahagia gitu”.
Mendengar kata-kata yang terucap dari kampret langsung
aku pingin mengambil rokok aku kabar ku selondopkan ke hidungnya biar agak
bener dikit. Gak seharusnya aku mempedulikan pertanyaan kampret. Karena gak
boleh merokok di area stasiun jadi hanya ku pasang wajah penyesalan meladeni
pertanyaanya.
“Aaahh kau ini gak seruu, galau mulu. Masa kau galau gitu,
jadi kek orang mau masuk rumah sakit jiwa, sekarang kau harus terima ihlkas,
berdoalah agar nanti kau berjodoh......”.
Belum sempat menyelasikan perkataanya kereta sudah datang
depan kami, kami yang sedang duduk dan kampret yang masih dengan kalimat yang
tertahan di tenggorokanya menelan lagi kalimat itu. Kami beranjak masuk kereta.
Stasiun demi stasiun dilewati, hingga kami sampai tujuan
dengan selamat yang hanya membutuhkan waktu dalam hitungan menit. Walaupun
pemandangan saat kereta berhenti begitu banyak orang yang keluar dari kereta,
sudah sebulan lebih pemandangan seperti ini ku lihat, namun selalu menimbulkan
pertanyaan dalam hati, bikin menggelengkan kepala. Begitu banyaknya orang.
Berjalan keluar stasiun yang penuh dengan pemandangan
orang berjalan dengan kesibukan dan tujuanya masing-masing. Sebelum keluar
masuk Indomaret membeli rokok Marlboro merah, semenjak kemasan rokok terdapat
gambar setiap beli rokok aku selalu memilih gambar yang orang menggendong bayi
atau yang bergambar tengkorak. Kadang kalau tidak ada yang itu aku gak jadi
beli.
Kalo kampret satu ini dia beli rokok betah kalo yang jaga
mba-mba dengan wajah cantik ramah dan dengan balutan jilbab, kalo semua itu ada
udah jelas ada kemungkinan untuk dikunjunginya lagi, walaupun hanya membeli air
mineral yang ukuran sedang.
Saat kami keluar indomaret, Hendri melayangkan pertanyaan
padaku sambil masih mengunyah keripik singkong dimulutnya.
“Kau lihat gak perempuan yang pake baju biru itu?, coba
kau perhatikan, apa yang membuat aku bertanya ke kau?”.
Sebelum menjawab pertanyaan dia, aku lihat raut wajahnya
dari tatapn mukanya memperlihatkan bahwa ini adalah pertnyaan serius yang harus
dijawab. Kami berdiri dan masih dengan keripik singkongnya.
“Karena perempuan itu memakai pakaian minim, dan dia
masih aja menarik roknya ke bawah juga menarik bajunya berharap menutupi dan
itu perempuan bodoh”.
Masih dengan keripik yang terus dimakanya, Hendri
mengganggukan kepalanya.
“Harusnya dia tuh mikir, udah tau gak mau keliatan masih
aja pake pakain minim, dan itu sebelahnya pakaina ketat padahal pake jilbab
bodoh juga jilbabnya gak nutup dada. Cantik sih, keknya harus aku nikahin biar
aku kasih pengetahuan bagaimana berpakaian serta memakai jilbab yang benar. Mereka
itu berpakaian tapi sebenernya telanjang, bentuk tubuhnya kliatan. Dan bukankah
itu bisa jadi dosa yang terus mengalir memperlihatkan aurat yang membuat lelaki
meliriknya apalagi kalo dengan nafsu. Aku ngomong apaan ini, udah ayo jalan,
laper pingin makan aku”.
Tanpa aku jawab, kami langsung berjalan. Tap kartu keluar
stasiun dan begitu terlihat ramai banyak pedagang yang menjajakan makanan. Rokok
yang kami beli langsung kami buka dan nikmati, aromanya sungguh harum.
“Sekarang, detik ini juga kita nikmati liburan hari ini,
kau harus hilangkan kegalaunmu itu. Nikmati sekarang, besok aku udah mau kerja
ini minggu depan juga aku mau ke jogja”.
Kami yang sedang jalan tetiba terucaplah kalimat dari
mulut Hendri dengan menyemburkan asep rokok yang tertiup angin hilang tanpa
alasan....
Makasih udah mau baca, tanpa kalian gak ada artinya
tulisan ini, walaupun juga tulisanya gak jelas cerita. Terimakasih ^_^
adi.