Lelaki yang chat kamu
tiap hari itu adalah lelaki yang kerjaanya on hp, charger lelaki yang gak ada
kerjaan, lelaki seperti yang kamu bilang baik dibanding lelaki yang sibuk gak
ada waktu buat chat kamu tapi dia berusaha untuk ngehalalin kamu, kamu bilang
lelaki yang buruk?
Kurang lebih seperti itulah dari salah satu ucapan
seseorang yang mungkin mengutip dari tulisan orang atau apalah.
Terkadang itu bikin aku untuk melempar hp yang sedang aku
pegang ini yang aku beli dari hasil kerjaku selama 3 bulan walaupun hp nya
tidaklah mewah namun, aku masih perlu untuk memikirkan 5 hari untuk melempar hp
ku.
Bukanya aku gak ada kerjaan, tapi dijaman internet
seperti ini berusaha untuk mencari pekerjaan cukup depan laptop. Jadi kalo aku
chat itu bukannya pemalas.
“Woiii... ngapain kau ngelamun gitu?? Semalem ngepet gak
dapet duit po?”
Dengan mulut seakan gak punya dosa Hendri temenku yang
biasa ku panggil kampret ini dengan seenak jidat ngomong depan mukaku sambil
menyemburkan asep rokok marlboro yang dihisapnya. Kalau saja aku udah gak
normal udah ku blokir dia dari bangsa ini.
“Kamprettt kau, fuck”.
“Halah kau ini kek orang kesurupan aja”
Aku lagi kesel dan pikiranku entah serasa hilang dari
kepalaku terbawa derasnya hujan yang turun di malam hari yang sendu ini.
“Kenapa kau ini?? Cerita lah sapa tau aku bisa kasih
solusi, tapi kalo tidak yaa aku saranin mending ke pegadaian karena hanya
pegadaian yang mengatasi masalah tanpa masalah”.
“Aku kangen sama wulan, tapi kini kontakku di blok. Barusan
aku nelpon dia berkali kali aku pingin banget bisa ngobrol sama dia, aku udah
kirim pesan bilang pingin nelpon tapi gak dibales”.
“Aahh sudahlah kalo dia beneran suka sama kau nanti juga
dia ngubungi kau, kalo gak ya berarti dia gak cinta sama kau”.
Si kampret ini temen yang aku kenal diawal masuk kuliah
dulu, kini kami sama sama berjuang di Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan, yaa
Ibu kota tempat yang kami anggap akan lebih mudah mendapatkan kerja. Sebulan sudah
kami kos bareng di Jakarta kami bukan satu daerah dia dari Bogor temen yang
setelah lulus sampe kini masih sama-sama nganggur, dan ada temenku satu dia di
Cirebon sama juga belum dapet kerja.
Rasa kangen yang begitu dalam, begitu ingin berbincang
malah di blok, seandainya hidup ini sebuah film aku akan memilih untuk
bergabung sebagai anggota The Expendales untu melupakan kesedihan dan kegalauan
ini, atau mungkin aku ajak kampret ini untuk melakukan Indonesian Job, kalo
Jason Statham main Italian Job, aku ikutan Indonesian Job.
Malem ini merupakan malem minggu dimana biasanya orang
pada keluar dengan pacarnya, tapi kami hanya di kost duduk di atas sambil
melihat hujan dan menikmati rokok marlboro yang kami beli patungan berdua.
Aku salut sama kampret temenku satu ini, dia waktu
skripsi ditinggal pacarnya yang tak lama setelah lulus ceweknya nikah dengan
lelaki yang jauh beda mukanya dengan kampret ini, dia hanya menang dengan
keadaan yang mapan, untung kampret bisa rampung skripsi dulu. Oooh sungguh
begitukah... pengangguran dilarang jatuh cinta.
***
Perasaan aku baru tidur, kenapa seakan mimpiku ada yang
menagih hutang menggedor pintu berkali kali seakan kalau aku gak ngebuka pintu
dia akan menempelkan peledak untuk masuk paksa.
Sialan, ini bukan sebuah mimpi aku terbangun dan suara
pintu nyata terdengar. Hendri berdiri depan pintu dengan senyum yang menirukan
senyum wulan dengan manisnya yang memperlihatkan gigi gingsulnya. Sialan ini
hal yang paling ku benci kalo dia menirukan gaya maupun bahasa seperti cewek.
“Ayo kita refresing”.
Dengan pakaian yag udah rapih kaos dengan jaket
mengenakan celana jeans model sedikit pensil sepatu ket berlagak keren depan
kamarku, sepertinya dia ini perlu aku jedotkan kepalanya agar rada lurus.
“Ya Allah kau ini, selaranya lagu Avenged Sevenfold, film
action crime, ternyata hatimu hello kitty kontak di blok galau mu gak ilang
ilang bahkan kau nangis, kuliah lagi aja lah kau ini”.
Tanpa aku hiraukan aku mengambil peralatan mandi berlagak
marah ku lewati dia dengan secuek cueknya ku ambil sebatang rokok, aku bakar
langsung ke lempar ke jaketnya.
“Sialan, bangkeee”. Sambil mengipat kipatkan tanganya di
jaket berharap gak bolong kena rokok.
“Kau ini baru bangun?? Waah gak sholat subuh kah kau ini”.
“Sholat lah nyet, subuh aku baru tidur, kau itu semalem
langsung ngebangke sialan”
***
Di hari yang cerah ini kami berencana untuk keluar jalan
jalan menikmati suasana Jakarta. Entah tujuan kemana belum ditentukan, yang
terpenting jalan setidaknya bisa megurangi rasa sedih, dan kampret ini juga ada
training lusa dia lolos tes dan interview.
“Kita pekai KRL aja”
Kebetulan kos kami deket stasiun Kramat hanya butuh waktu
tiga sampe lima menit jalan kaki. Sambil merokok kami jalan berlagak keren
layaknya Jason Statham dalam film Save dan Tim Robbins di film the shawshank
redemption, yang diiringi lagu Linkin Park With You.
Masuk stasiun tap kartu seperti dalam film komedi tanpa
nunggu kereta jurusan Jatinegara datang bersamaan datangnya kami, dasar cerita
terserah yang nulis mau nulis gimana juga.
Dalam benak kami langsung kepikiran gimana kalo ke
Jakarta Kota disana pasti rame juga banyak kuliner sepanjang jalan. Bisa aja
pikiranya sama, kalo kampret ini cewek udah aku pacari, kek wulan yang kini....
ah sudahlah.
Dari Stasiun Kramat menuju Jatinegara sesampainya ganti
kereta yang ke Jakarta kota, namun sayangnya disini tidak seperti di satsiun
kramat yang keretanya langsung tiba. Kami menunggu lama, sambil duduk melihat
ramainya stasiun yang dengan banyak orang entah kemana tujuan mereka.
Ada yang menarik perhatianku saat aku sedang duduk
melihat daftar kontak kini tak ada lagi wulan. Kereta api dari Tegal berhenti
di Jalur dua, penumpang banyak yang turun, dan gak lupa sang pramugari ikut
keluar mungkin untuk mengambil nafas. Bagitu cantik dengan seragamnya dan
balutan jilbabnya senyumnya yang mengingatkanku akan wulan disaat aku
kerumahnya dia jemput aku di stasiun.
“Eh apa kau lihat seperti apa yang aku lihat??”
Tanya si kampret ini yang dengan muka sumringah dia
menatap sang pramugari, dengan tatapan seakan dia ingin menghampirinya. Si kampret
berdiri menarik jaketku mendekati pramugari. Ia merebut hp ku yang sedang aku
pegang serambi berkata “Mba umm.. boleh minta foto bareng gak?”. Kampret dia
malah minta foto dan aku yang memfoto dengan hp ku pula.
Kebetulan ada kereta yang menuju Manggarai, karena lama
setelah aku cekrek kampret dengan mba pramugari ku tarik jaket kampret bagian
atas untuk naik, nanti ganti kereta di Manggarai...
Eeh iki bloge adi sik pisau karaten udu toh, ganti almatlah? Apa kancane ahhahah
BalasHapusWaduh ampe diblok wulan, uda kayak istilah ti pat kai begitulah cinta penderitaannya selalu tiada akhir
Btw banyak juga istilah baru yang mayan keren.,penggemar serial crime, lagu avenged seven hold tapi berhati hello kitty pasti uwuwuw sekali tu hahahahha
numpang ikutan mengiyakan di artikel terjebak dalam memori...sambil testing di BW in balik nggak
HapusIyo iki mba, aku Adi, gak ganti alamat ini blog sik gawe kancaku aku turut partisipasi, ikuti ya mba Nit.. hehee..
Hapusti pat kai, apaan itu mba?
hahaaa.. jelas uwuwuw banget itu mba.
Makasih udah mengiyakan hahaay, insha Alah tek BW balik.
Hapuseaaaa eaaaa kayak fiksi yaaaa hahahaha
BalasHapusbener tuh temennya, dilarang galau berkepanjangan. solusinya wes semantep pegadaian, ngajakin kamu refreshing
salam kenal juga kak
kayak fiksi, lha emang... hmmm
HapusIya, mengatasi masalah tanpa masalah.
makasih kunjunganya juga megikutinya.
Aku suka sama gaya bisara kalian, terutama sama si Kampret itu. hahah terlihat sekali dia bukan tipe cowo yang cengen seperti kau.
BalasHapuseh.
masalahnya apa kok sampai di blok gitu?
ini cerita fiksi bukan sih?
Wooo.. makasih, hehee iya ya.
Hapuskan udah ada penjelasanya disitu.
iya ini fiksi adaptasi.