Rabu, 22 Februari 2017

Terjebak dalam memori (chapter 2)

----Kegalauan yang menghampiriku membuatku seakan sakit jiwa, aku yang begitu mencintainya kini renggang, jarak yang jauh membuatku tak bisa untuk menemuinya. Aku hanya bisa besabar menunggu kepulanganya untuk aku temui di rumahnya.

Saat seperti ini aku masih bersyukur, aku punya teman yang kampret yang bisa bikin hilang stres dengan menambah stres. Aku yang sedang menikmati marlboro merah, rokok yang kami beli patungan berdua kini tinggal 3 batang, aromanya pun sudah memudar.

***
Aku tarik ujung jaket Hendri yang sudah meminta foto sama mba pramugari kereta api di Stasiun Jatinegara, kami akan menuju Jakarta kota membuang kepenatan yang menghampiri.
“Apaan sih kau? Main tarik tarik, aku kan belum sempet ngobrol sama mbaknya lumayan waktu 5 menit”. Dengan muka dan nada memelas Hendri menatapku seakan ingin menjedotkan jidatku ke krl.

“Ini udah ada yang ke Manggarai, lama kalo kita nunggu yang Jakarta Kota, keburu imsak nyet”.

Kami masuk ke kereta dengan kondisi yang hampir penuh, seperti biasa saat naik krl dikala kondisi seperti ini aku berdiri deket pintu dan melongok jendela. Entah kenapa rasanya itu seperti kerinduan melihat tempat yang dilewati kereta, walaupun pemandanganya cuma itu-itu aja dan naik krl udah keseharian namun tetep aja melongok jendela seperti jadi kebiasaan.
Beda dengan Hendri, dia yang berubah-ubah kebiasaan dalam kereta. Saat sepi dia dengan mudahnya memejamkan mata dalam hitungan detik dia bisa pules tertidur, kadang dia juga sibuk dengan hp nya entah apa yang dibuka.

Yang paling ngeselin kalo dia sok kenal, mendekati perempuan dengan pd nya, dan dia bisa melancarkan seratus pertanyaan dalam jarak satu stasiun. Tak lama kereta sampai Manggarai mengakhiri perjalanan, dan kami pindah jalur untuk melanjutkan ke Jakarta Kota.

“Mana hp mu sini”.
“Apaan sih kau ini?”.

Hendri mulai menatapku dengan muka yang bikin aku kesel saat dia pasang muka datar pandangan penuh paksaan untuk merebut hp yang aku pegang ditangan kiriku.

“Sini sih, ah susah banget, lagian ngapai sih kau buka hp?? Kan udah gak ada lagi kan kontak Wulan, nanti yang ada kau nambah galau. Kalau kau sampe galau tek tinggal pergi. Mending aku ke Cirebon tempat Indra”.

“Emang kalau aku galau kenapa?”.
“Kalau kau galau aku gak mau jadi saksi, ditanyain apa penyebabmu galau terus kau gila di bawa Magelang ke RSJ, aku males juga nengokin orang gila”.
Sambil senyum, yang seakan menirukan senyum Wulan dengan muka sok berseri memperlihatkan kata maaf atas ucapanya ngomong aku gila dengan perlahan merebut hp ku.

“Aku cuma mau lihat foto yang tadi sama mba pramugari”.
“Sialan, fakk.. kenapa gak bilang aja langsung dari tadi nyeettt”. Heerrggghhhtt greget banget.
“Kan biar ada keseruanya”.
“Wooo kamprett, lagian ngapain sih kau foto sama mbanya, emang mau kau pasang di instagram gitu?”.
“Ya iyalah”.
“Enak banget hidupmu, eh terus gimana kabar erika?”.
“Iyalah, emang kau galau mulu udah seminggu, pake nangis pula”.
“Bangkee, kau dulu lebih parah pake frustasi gila gitu”.

Erika adalah seorang perempuan yang berhasil mendapatkan hati si kampret, orang yang dulu hampir frustasi berat karena ditinggal nikah pacarnya, kini erika membuat hari si kampret ini berwarna.

Belum lama Kampret ini buka hp ku dengan senyum senyum sendiri kereta sudah mau datang terdengar dari suara petugas yang mengatakan akan kedatangan kereta jurusan jakarta kota. Entah apa yang dilihat dia senyum senyum gak jelas, hanya sebuah foto yang aku rasa sama sekali gak ada yang lucu. Menyodorkan hp ke depan mukaku dengan menanyakan pertanyaan yang seharusnya gak aku jawab.

“Kau lihat foto ini”.
“Iya, mba nya itu cantik apalagi dengan balutan jilbabnya”.
“Aaahh kau ini, bukan itu. Liat lah fotoku, ganteng juga aku ya kalau senyum bahagia gitu”.

Mendengar kata-kata yang terucap dari kampret langsung aku pingin mengambil rokok aku kabar ku selondopkan ke hidungnya biar agak bener dikit. Gak seharusnya aku mempedulikan pertanyaan kampret. Karena gak boleh merokok di area stasiun jadi hanya ku pasang wajah penyesalan meladeni pertanyaanya.

“Aaahh kau ini gak seruu, galau mulu. Masa kau galau gitu, jadi kek orang mau masuk rumah sakit jiwa, sekarang kau harus terima ihlkas, berdoalah agar nanti kau berjodoh......”.

Belum sempat menyelasikan perkataanya kereta sudah datang depan kami, kami yang sedang duduk dan kampret yang masih dengan kalimat yang tertahan di tenggorokanya menelan lagi kalimat itu. Kami beranjak masuk kereta.

Stasiun demi stasiun dilewati, hingga kami sampai tujuan dengan selamat yang hanya membutuhkan waktu dalam hitungan menit. Walaupun pemandangan saat kereta berhenti begitu banyak orang yang keluar dari kereta, sudah sebulan lebih pemandangan seperti ini ku lihat, namun selalu menimbulkan pertanyaan dalam hati, bikin menggelengkan kepala. Begitu banyaknya orang.

Berjalan keluar stasiun yang penuh dengan pemandangan orang berjalan dengan kesibukan dan tujuanya masing-masing. Sebelum keluar masuk Indomaret membeli rokok Marlboro merah, semenjak kemasan rokok terdapat gambar setiap beli rokok aku selalu memilih gambar yang orang menggendong bayi atau yang bergambar tengkorak. Kadang kalau tidak ada yang itu aku gak jadi beli.

Kalo kampret satu ini dia beli rokok betah kalo yang jaga mba-mba dengan wajah cantik ramah dan dengan balutan jilbab, kalo semua itu ada udah jelas ada kemungkinan untuk dikunjunginya lagi, walaupun hanya membeli air mineral yang ukuran sedang.

Saat kami keluar indomaret, Hendri melayangkan pertanyaan padaku sambil masih mengunyah keripik singkong dimulutnya.

“Kau lihat gak perempuan yang pake baju biru itu?, coba kau perhatikan, apa yang membuat aku bertanya ke kau?”.

Sebelum menjawab pertanyaan dia, aku lihat raut wajahnya dari tatapn mukanya memperlihatkan bahwa ini adalah pertnyaan serius yang harus dijawab. Kami berdiri dan masih dengan keripik singkongnya.

“Karena perempuan itu memakai pakaian minim, dan dia masih aja menarik roknya ke bawah juga menarik bajunya berharap menutupi dan itu perempuan bodoh”.

Masih dengan keripik yang terus dimakanya, Hendri mengganggukan kepalanya.

“Harusnya dia tuh mikir, udah tau gak mau keliatan masih aja pake pakain minim, dan itu sebelahnya pakaina ketat padahal pake jilbab bodoh juga jilbabnya gak nutup dada. Cantik sih, keknya harus aku nikahin biar aku kasih pengetahuan bagaimana berpakaian serta memakai jilbab yang benar. Mereka itu berpakaian tapi sebenernya telanjang, bentuk tubuhnya kliatan. Dan bukankah itu bisa jadi dosa yang terus mengalir memperlihatkan aurat yang membuat lelaki meliriknya apalagi kalo dengan nafsu. Aku ngomong apaan ini, udah ayo jalan, laper pingin makan aku”.

Tanpa aku jawab, kami langsung berjalan. Tap kartu keluar stasiun dan begitu terlihat ramai banyak pedagang yang menjajakan makanan. Rokok yang kami beli langsung kami buka dan nikmati, aromanya sungguh harum.

“Sekarang, detik ini juga kita nikmati liburan hari ini, kau harus hilangkan kegalaunmu itu. Nikmati sekarang, besok aku udah mau kerja ini minggu depan juga aku mau ke jogja”.

Kami yang sedang jalan tetiba terucaplah kalimat dari mulut Hendri dengan menyemburkan asep rokok yang tertiup angin hilang tanpa alasan....

Makasih udah mau baca, tanpa kalian gak ada artinya tulisan ini, walaupun juga tulisanya gak jelas cerita. Terimakasih ^_^
adi.



12 komentar:

  1. rokok aku kabar ku
    Hah apaan ini?
    Bakar kali y maksudnya?
    .
    Makanya bang jangan galau mlu
    Kasiankan ayam tetangga pada mati
    .
    Asik ceramah tentang pakaian
    Dah besok jadi ustad
    Cocok
    Eh tapi kalo jadi ustad jgn genit y
    .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itu salah ketik, maksude bakar.

      Tumben komentarmu gak ngeselin kek bisanya, Nik.

      Hapus
  2. Akhirnya tak ada kegalauan lagi, menikmati asap rokok menghilangkan hati gundah hilang tanpa alasan.

    Nice story.. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehee.. iya kegalauan pun mulai menghilang.

      Makasih.

      Hapus
  3. Hendri teman yang menyenangkan haha, paling tajam penciumannya dengan wanita cantik
    Yang pakaian minim dan super ketatpun tak luput dari pengamatannya, bagus juga itu niatnya untuk menikahi dan mengajarkan pakaian yg syar'i

    BalasHapus
  4. Aku kira judulnya 'terjebak nostalgia'. Hehhehee. Iya ini cerita tentang kegalauan kan ya :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terjebak dalam memori.
      Iya ini cerita tentang kegalauan. Hehe

      Hapus
  5. Eh ternyata di jatinegara sekarang juga ada pramugarinya ya di, kirain aku di senen aja
    Wes mending ga sah rokok, tumbas warteg wareg
    O sekarang kau stay di jkt ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada mba.
      Hahaa iya mending buat makan apalagi kalo lagi limit.
      Iya ini lagi stay di jakarta.

      Hapus

Jangan beranjak dulu, tinggalin dulu komentarnya. biar kami tau kalo kamu kesini. kunjungan anda sangat berarti.